Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah Dasar - Slicer drag-On

Breaking

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Sunday, October 8, 2017

Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah Dasar

Strategi Mencegah dan Menanggulangi Tinggal Kelas dan Putus Sekolah Dasar: 
Gerakan Saling Asah, Asih dan Asuh


(Dosen dan Pemerhati Masalah Pendidikan)

Di sebuah ruangan rumah yang agak kecil, tepatnya di pelataran belakang, yang juga biasa dipakai oleh si Ibu, dan ke-tiga anaknya, tepatnya di dapur yang berdekatan dengan kandang ayam dan kamar mandi. Pagi itu, didampingi dengan kepulan asap kayu yang biasa dipakai untuk memasak, memang kadang mereka pakai gas LPG, kebetulan saja isinya sudah habis dan belum sempat membeli yang baru. Pastinya, di jam- jam segitu, setelah sholat shubuh, sang ayah sudah berangkat ke sawah, sawah yang cuma sepetak tersebut yang merupakan tinggalan satu – satunya dari orang tuanya. Ibu, yang oleh ke-tiga anaknya dipanggil begitu, sapaan yang begitu dekat ditelinga, tanpa sekat, tanpa jarak dan tanpa arti. Yang pastinya, Ibu, dalam bayang – bayang pikiran imajinasi anak tersebut adalah sosok yang selalu mencukupi kebutuhan mereka di waktu pagi. Entah, di waktu pagi di saat sebelum sekolah atau ketika libur sekolah atau bahkan ketika mereka pulang dari sekolah.
Selang beberapa saat, kemudian, mereka antara ibu dan ke-tiga anaknya, memulai percakapan kecil. Sebuah percakapan yang acapkali kita dengar disekeliling kita.
Ibu: “… Aduh, nak, kamu dan juga adik – adikmu bisa makan saja itu merupakan sebuah anugerah dari Tuhan yang sangat luar biasa.”
Suasana menjadi hening. Suasana kebatinan mereka berada pada sikap patuh, mendengar dan melaksanakan.
Anak pertama menyaut perkataan Ibunya, karena dia merasa perkataan tersebut ditujukan kepadanya, ketika Ibunya bilang, “kamu dan juga adik – adikmu.”
Anakpertama: “Kenapa koq tiba – tiba bicara seperti itu bu...”
Ibu: “Tidak ada apa – apa nak, kita harus bisa selalu bersabar dan bersyukur.”
Ibu tersebut sadar kalau masa depan anak – anaknya masih sangat jauh, anaknya yang pertama saja masih kelas 5 Sekolah Dasar atau SD, sedangkan yang ke dua dan ketiga, masih kelas 3 SD dan sekolah di Taman Kanak Kanak atau TK dekat balai desa, TK A.
***
Jika kita kaitkan perspektif kita tentang pendidikan terutama pendidikan Dasar dengan sepenggal cerita di atas. Maka, ada sebuah semangat pantang mundur serta optimisme yang tumbuh dan mengalir dari dalam diri si Ibu, untuk memastikan serta membekali anak mereka dengan sifat Ilahiah, ke-Tuhan, dari cerita tersebut kita yakni bahwa: 1) Milikilah sifat selalu sabar dan syukur, bahwa akan ada pertolongan Tuhan. 2) Mengajarkan sifat optimisme kepada anaknya, terutama anak yang tertua, bahwa masa depan masih panjang, capailah cita- cita tersebut dengan pendidikan yang tinggi. 3) Harus ada upaya lain, kerja nyata yang bisa memastikan bahwa setiap anak yang dilahirkan di bumi Indonesia ini mendapatkan pendidikan yang layak, tetap lanjut sekolah dan dengan memperbaiki kualitas keintelektualan mereka. Boleh jadi, sepenggal cerita di atas (baca: lagi) bisa saja kita temui di belahan bumi Indonesia lain dimana kita bertempat tinggal saat ini. Kita boleh percaya bahwa problem tersebut ada, dengan perspektif bahwa: 1) keberadaan mereka (baca: poin ke-3 dari perspektif cerita) bisa saja tidak diketahui, tidak kita ketahui. 2) keberadaan mereka diketahui, tapi kita tidak punya daya dan upaya untuk menjadi bagian dari solusi atas masalah tersebut, dan atau 3) apakah kita sebenarnya mengetahui keberadaan mereka tapi kita diam seribu langkah, dengan berjuta alasan.Oleh karena itu, langkah lanjutan dari perspektif cerita tentang pendidikan terutama adalah upaya nyata memastikan bahwa setiap anak yang dilahirkan di bumi Indonesia ini mendapatkan pendidikan yang layak, tetap lanjut sekolah dan dengan memperbaiki kualitas keintelektualan mereka serta memposisikan kita sebagai orang yang mengetahui keberadaan mereka dan menjadi bagian dari solusi tersebut.

Gerakan Saling Asah, Asih dan Asuh
Ungkapan, “yang lebih mengatahui kamu dan diri kamu sendiri adalah mereka yang dekat dengan kamu.” Gerakan saling asah, asih dan asuh mengarah pada back to basic environment, berada pada tataran nyata di lingkungan kita berada, di lingkungan kita bertempat tinggal. Ketika kita berbicara pada konsep gerakan saling asah, asih dan asuh berarti berbicara tentang konsep bagaimana mendidik, mencintai dan membina. Pada dasarnya, konsep mendidik sejauh ini dilaksanakan oleh lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal dan proses mendidik tersebut berada di sekolahan. Tetapi, untuk gerakan asah, asih dan asuh yang akan kita perkenalkan ini adalah gerakan dimana siswa yang berpendidikan tinggi, tingkat Sekolah Menegah Atas, SMA atau Universitas “membantu” mereka yang masih berada pada tingkat pendidikan rendah, Sekolah Dasar. Sebuah gerakan menciptakan “volunteer” atau tenaga pendamping sesama warga untuk saling asah, mendididik yakni membantu mendidik siswa Sekolah Dasar di tiap lingkungan desa dengan memberikan tambahan dan pemantapan materi pelajaran dari sekolahan, untuk saling asih, mencintai, yakni mendidik siswa Sekolah Dasar dengan konsep kasih sayang antar sesama, dan untuk saling asuh, membina, yakni: 1) mengarahkan siswa Sekolah Dasar untuk tahu dan lebih tahu tentang ke-ilmuan mereka dan memastikan setiap materi pelajaran siswa Sekolah Dasar terserap secara maksimal, dan 2) mengarahkan siswa Sekolah Dasar untuk tetap bisa melanjutkan sekolah dengan bantuan finansial dari lumbung kas keungan desa untuk masyarakat yang kurang mampu.
Gerakan saling asah, asih dan asuh ini di awali dengan mengenali karakteristik dimana kita bertempat tinggal, karena ketika ada siswa Sekolah Dasar atau SD dilingkungan sekitar kita, mereka tidak bisa melanjutkan sekolah atau bahkan harus tinggal kelas, kira – kira siapa yang harus bertanggung jawab atas permasalahan tersebut. Apakah orang tua, guru, pemerintah atau kita yang tinggal dekat mereka. Pada dasarnya, permasalahan tersebut adalah permasalahan kita bersama, sebagai bagian dari masyarakat terutama bangsa Indonesia. Ada beberapa langkah untuk menerapkan gerakan saling asah, asih dan asuh ini, yang menurut saya sangat nyata untuk bisa mengurangi bahkan meminimalkan angka tinggal kelas dan putus kelas terutama siswa Sekolah Dasar. Berikut:
Langkah pertama,membangun konsep kerjasama. Sebagai bagian dari pemerintahan, pelibatan desa dan kepala desa adalah sebuah keharusan atau bahkan kewajiban, karena gerakan saling asah, asih dan asuh ini dimulai dari cakupan masyarakat terkecil yakni desa.Kerjasama antara kepala desa, guru Sekolah Dasar di tiap desa, para pemuda desa dan wali siswa di tingkat Sekolah Dasar. Kalaupun nantinya, gerakan ini dibuat pola bukan lagi bottom-up tapi up-bottom, maka tetap saja ada membangun konsep kerjasama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kementerian Dalam Negeri atau Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan Bappenas. Tetapi fokus gerakan asah, asih dan asuh yang ditawarkan kali ini adalah bottom-up. Kerjasama dari cakupan masyarakat terkecil mulai dari struktural kepala desa, guru Sekolah Dasar di tiap desa, para pemuda desa dan wali siswa di tingkat Sekolah Dasar. Tujuannya adalah:mendata jumlah warga desa yang sekolah. Data berisi tentang jumlah siswa di tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Atas atau SMA dan Universitas. Secara teknis, ada pembagian disetiap 5 (lima) siswa tingkat SMA dan Universitas akan melakukan pendampingan terhadap 15 (lima belas) siswa tingkat SD.
Langkah kedua, pelaksanaan. Dengan konsep gerakan saling asah, asih dan asuh, maka siswa yang berada di Sekolah Menengah Atas atau SMA dan Mahasiswa, di Universitas melakukan: 1) pembuatan kurikulum yang dibantu oleh guru Sekolah Dasar di lingkungan tersebut dan 2) pengajaran dan pembelajaran atau pemberdayaan tambahan di laksanakan di waktu sore atau malam hari (setelah sholat maghrib). Pembelajaran tersebut dilaksanakan bisa seminggu satu kali atau dua kali dalam seminggu. Pembelajaran dilakukan dibalai desa setempat, pemberdayaan, untuk memastikan keikutsertaan semua siswa di tingkat Sekolah Dasar.Para siswa di tingkat SMA atau Universitas merasa diberdayakan dengan saling membantu sesama warga. Proses pengajaran dan pembelajaran tambahan ini, pemberdayaan, dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kurikulum tingkat satuan Sekolah Dasar agar tetap terukur dan terarah. Sehingga nilai keintelektualan siswa Sekolah Dasar tetap terjaga dan tidak ada siswa yang tinggal kelas. Tentu pastinya, kegiatan tersebut wajib mendapat dukungan dari pemerintah, dalam hal ini kepala desa dan segenap jajarannya dan wali siswa. Selain dukungan saran dan prasarana, ada juga juga dukungan finansial terhadap siswa Sekolah Dasar yang kurang mampu, dukungan finansial tersebut diperoleh dari lumbung kas keuangan desa yang diatur dengan konsep gerakan saling asuh, hal tersebut dilaksanakn untuk memastikan tidak ada siswa Sekolah Dasar yang putus sekolah yangterkendala masalah finansial.
Langkah ketiga adalahevaluasi,untuk memastikan jalannya gerakan saling asah, asih dan asuh dengan lancar, maka harus ada evaluasi setiap 6 (enam) bulan sekali, bentuk evaluasi berupa progress report dari “volunteer” siswa SMA dan Universitas yang kemudian disingkronkan dengan nilai raport yang didapat siswa di pendidikan formal, sekolah. Program ini harus bersifat kontinu untuk memastikan bahwa para siswa di Sekolah Dasar merasa mempunyai teman sharing ke-ilmuan terutama pelajaran sekolah. Bisa dipastikan atmosphere intelektual akan mengalami kenaikan yang signifikan dan mindset ke-ilmuan akan terasa terutama dilokal desa yang bersangkutan.

Peran Pemerintah dan Peraturan Pendudukungya
Program gerakan saling asah, asih dan asuh tidak akan berjalan dengan baik tanpa dukungan dari pemerintah, baik pusat maupun daerah, terutamaKementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dengan konsep up-bottom, bentuk dukungan bisa berbentuk pembuatan peraturaan perundang – undangan yang buat dan kemudian diundangkan dan dilaksanakan oleh setiap pemerintah daerah di Indonesia, di setiap lingkungan terkecil yakni, desa. Kenapa desa, karena disetiap desa pasti ada 2 atau 3 lembaga pendidikan Sekolah Dasar, dan apabila hal tersebut benar – benar dilaksanakan secara massif maka tidak akanada warga Negara Indonesia yang tinggal kelas atau bahkan putus sekolah pada tingkat Sekolah Dasar. Kenapa Sekolah Dasar, karena dari sinilah proses pembibitan para kader bangsa dimulai. Dengan konsep bottom-up, betuk dukungan berupa gerakan moral yang massif oleh para pemerhati pendidikan, dengan sebutan gerakan asah, asih dan asuh.

Kesimpulan dan Saran
Sebenarnya, upaya strategi untuk mengatasi masalah tinggal kelas dan putus sekolah adalah hal yang mudah, mudah sulit, bisa mudah kalau ada keseriusan untuk menyelesaikan masalah tersebut dan bisa juga sulit kalau tidak ada upaya untuk mengatasinya. Tapi, hal tersebut dapat diatasi dengan konsep gerakan saling asah, asih dan asuh yang didukung dengan pembuatan perundang – undangan untuk menjalankan hal tersebut dan gerakan moral yang massif. Sehingga suatu hari nanti kita tidak akan menemukan lagi cerita tentang perspektif pendidikan Sekolah Dasar (seperti cerita di atas) sehingga cerita di atas hanya akan menjadi cerita khayal belaka buat anak cucu kita nanti.

No comments:

Post a Comment

Post Top Ad

Responsive Ads Here